Veritasnews.id — Di tengah masyarakat Indonesia, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha, muncul anggapan yang sudah lama dipercaya bahwa mengonsumsi daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Tidak sedikit orang memilih menghindari sate maupun gulai kambing karena takut kadar kolesterol naik dan memicu berbagai penyakit.
Namun, benarkah daging kambing menjadi penyebab utama hipertensi?
Sejumlah pakar kesehatan menilai anggapan tersebut merupakan mitos yang berkembang turun-temurun dan tidak sepenuhnya didukung fakta ilmiah. Hingga kini, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa daging kambing secara langsung menyebabkan hipertensi pada orang sehat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan benar.
Kandungan Lemak Daging Kambing Justru Lebih Rendah
Berdasarkan data nutrisi dari United States Department of Agriculture (USDA), daging kambing justru memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa jenis daging merah lainnya.
Dalam 100 gram daging kambing, kandungan lemaknya tercatat lebih rendah dibandingkan daging sapi. Selain itu, daging kambing juga kaya protein, zat besi, vitamin B12, dan kalium yang dibutuhkan tubuh.
Dokter spesialis gizi klinik menjelaskan, tekanan darah tinggi lebih sering dipicu oleh pola hidup tidak sehat seperti konsumsi garam berlebihan, kurang olahraga, merokok, stres, obesitas, hingga faktor genetik.
“Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan hanya jenis dagingnya, tetapi cara pengolahannya dan jumlah konsumsinya. Jika dimasak dengan terlalu banyak santan, garam, atau dimakan berlebihan tentu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” ujar seorang ahli gizi.
Hipertensi Tidak Datang Seketika Setelah Makan Kambing
Banyak masyarakat mengaku mengalami pusing atau tengkuk terasa berat setelah mengonsumsi sate kambing, lalu menganggap kondisi tersebut sebagai tanda hipertensi mendadak akibat daging kambing.
Padahal secara medis, hipertensi tidak muncul secara instan hanya karena satu kali makan. Sensasi panas atau tidak nyaman setelah makan daging lebih sering disebabkan oleh faktor lain seperti kelelahan, kurang minum, konsumsi makanan tinggi garam, atau kondisi tubuh yang memang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.
Para ahli kesehatan menyebutkan, tekanan darah dapat meningkat sementara akibat berbagai faktor, namun bukan berarti langsung disebabkan oleh daging kambing itu sendiri.
Cara Aman Mengonsumsi Daging Kambing
Meski tidak terbukti sebagai penyebab utama hipertensi, konsumsi daging kambing tetap perlu dilakukan secara bijak. Pola makan seimbang menjadi kunci utama menjaga kesehatan tubuh.
Berikut beberapa tips sehat mengonsumsi daging kambing:
Hindari konsumsi berlebihan dalam satu waktu.
Kurangi penggunaan garam dan santan berlebihan saat memasak.
Pilih bagian daging yang minim lemak.
Perbanyak konsumsi sayur dan buah sebagai penyeimbang.
Imbangi dengan olahraga rutin dan cukup minum air putih.
Masyarakat Diminta Tidak Mudah Percaya Mitos
Tenaga kesehatan mengimbau masyarakat agar lebih bijak menerima informasi terkait makanan dan kesehatan. Edukasi berbasis ilmu pengetahuan dinilai penting untuk meluruskan berbagai mitos yang berkembang luas di masyarakat.
Daging kambing maupun daging merah lainnya pada dasarnya tetap dapat menjadi sumber protein hewani yang baik apabila dikonsumsi secara proporsional. Risiko penyakit lebih dipengaruhi pola hidup secara keseluruhan dibandingkan hanya satu jenis makanan tertentu.
Dengan demikian, anggapan bahwa makan daging kambing otomatis menyebabkan hipertensi dapat dikategorikan sebagai salah kaprah apabila tidak disertai kondisi medis dan pola konsumsi yang tidak sehat. (Red)






