LAMPUNG UTARA, veritasnews.id — Pendapatan petani di Lampung mengalami lonjakan signifikan seiring menguatnya harga sejumlah komoditas pertanian seperti gabah, jagung, dan singkong. Bahkan di beberapa wilayah, peningkatan pendapatan petani disebut mencapai hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan penguatan harga komoditas tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan harga acuan pembelian sejumlah komoditas strategis.
Hal itu disampaikan Mirza saat menghadiri Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Utara Tahun 2027 di Gedung Pusiban Agung, Kotabumi, Kamis 26 Maret 2026.
Menurut Mirza, pemerintah pusat telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Sementara harga acuan jagung pipilan kering sebesar Rp5.500 per kilogram, dengan harga di tingkat petani saat ini stabil di kisaran Rp5.500 hingga Rp5.600 per kilogram.
Untuk komoditas singkong, Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp1.350 per kilogram dengan batas maksimal rafraksi 15 persen, yang turut memperkuat pendapatan petani di daerah sentra produksi.
“Penguatan harga komoditas ini memberikan dampak nyata bagi petani, terutama di daerah sentra produksi seperti Lampung Utara,” ujar Mirza.
Selain kebijakan harga, Pemprov Lampung juga menjalankan Program Desaku Maju untuk memperkuat ekonomi desa dan meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.
Program ini antara lain memberikan dukungan pupuk organik cair (POC), mesin pengering (dryer), serta pelatihan vokasi bagi petani dan masyarakat desa.
Mirza mencontohkan keberhasilan program tersebut di Desa Wonomarto, Lampung Utara, yang mampu meningkatkan produksi pertanian hingga sekitar 30 persen.
Produksi padi di desa tersebut meningkat dari 994 ton menjadi 1.292 ton, jagung dari 236 ton menjadi 307 ton, serta singkong dari 20.000 ton menjadi 26.000 ton. Selain itu, penggunaan mesin pengering juga memberi tambahan nilai ekonomi hingga Rp82,9 juta sejak Juni 2025 hingga Maret 2026.
Program Desaku Maju juga terintegrasi dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui skema ini, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan difasilitasi menjadi pemasok bahan baku pangan bagi program tersebut.
“Kami ingin perputaran ekonomi dari program nasional benar-benar dirasakan langsung oleh petani dan pelaku UMKM di desa,” kata Mirza.
Selain penguatan sektor pertanian, Gubernur juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia, hilirisasi komoditas, serta pembangunan infrastruktur sebagai pilar percepatan pembangunan di Lampung Utara.
Menurutnya, kombinasi ketiga sektor tersebut menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Red).









