BERITADAERAHKESEHATANLAMPUNG UTARA

Dinkes Lampura Gencarkan Tracing TBC di 104 Desa

4
×

Dinkes Lampura Gencarkan Tracing TBC di 104 Desa

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG UTARA, Veritasnews.id (SMSI) — Dinkes Lampung Utara menggencarkan tracing TBC melalui program Cek Kesehatan Gratis atau CKG.

Program tersebut menyasar 104 desa dan kelurahan yang tersebar di seluruh wilayah Lampung Utara.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Kepala Bidang P2P Dinkes Lampung Utara, dr. Dian Mauli, mengatakan program memasuki pekan kedua.

Petugas mengawali kegiatan dengan sosialisasi dan edukasi, terutama pada wilayah dengan jumlah penderita TBC tinggi.

Dian mengatakan integrasi tracing TBC dan CKG membantu meningkatkan capaian indikator penanggulangan TBC Lampung Utara.

“Harapannya target-target indikator dari penyakit dapat dicapai,” kata Dian, Kamis (17/9/2026).

Petugas tidak hanya melakukan tracing, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai penyakit TBC kepada masyarakat.

Dian menilai edukasi penting karena sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman keliru mengenai TBC.

“Banyak masyarakat menganggap TBC penyakit keturunan, tidak bisa sembuh, bahkan menjadi aib,” ungkapnya.

Anggapan tersebut membuat sebagian warga enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan karena merasa malu.

Dian menegaskan TBC bukan penyakit keturunan maupun akibat guna-guna, tetapi penyakit menular yang bisa disembuhkan.

“Ini bukan penyakit keturunan, bukan karena guna-guna. Ini penyakit menular dan bisa disembuhkan,” tegasnya.

Dinkes berharap edukasi membuat masyarakat lebih terbuka memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

“Setelah mereka paham, mereka akan sukarela memeriksakan diri. Tidak perlu malu lagi,” katanya.

Penanganan TBC juga melibatkan Tim Siaga TBC yang sudah terbentuk di setiap kecamatan.

Tim tersebut melibatkan unsur kecamatan, puskesmas, kepala desa, dan aparatur desa.

“Setiap kecamatan sudah ada SK Tim Siaga TBC. Camat, puskesmas, kades dan aparatur desa masuk,” imbuh Dian.

Namun, Dian mengakui hasil kolaborasi tersebut belum maksimal karena petugas masih menghadapi tantangan edukasi masyarakat.

“Outputnya memang belum maksimal. Cukup sulit mengubah atau menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat,” pungkasnya. (JAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *