BANDAR LAMPUNG, veritasnews.id — Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan pentingnya penanganan stunting dan tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045.
Hal tersebut disampaikannya saat kunjungan kerja di Aula Semergou, Kantor Pemerintah Kota Bandar Lampung, Selasa (14/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri (2) Republik Indonesia, Akhmad Wiyagus. Keduanya disambut langsung oleh Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana bersama jajaran Forkopimda Kota Bandar Lampung.
Kegiatan ini juga dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal beserta jajaran Forkopimda Provinsi Lampung.
Dalam paparannya, Benjamin menyebut pemerintah saat ini memiliki delapan program unggulan, dengan dua di antaranya berfokus pada sektor kesehatan, yakni penanganan stunting dan gizi buruk.
Menurutnya, langkah tersebut sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, dan kompetitif.
“Kalau kita ingin menjadi negara maju di 2045, SDM harus sehat dan berkualitas. Stunting dan gizi buruk harus kita atasi dari sekarang,” ujarnya.
Ia juga menyinggung posisi Indonesia dalam perekonomian global yang saat ini berada di peringkat ke-16 dunia dan tergabung dalam forum G20. Dengan pengelolaan pemerintahan yang efektif, Indonesia diproyeksikan dapat masuk ke posisi enam atau tujuh besar ekonomi dunia pada 2045.
Selain itu, Wamenkes menyoroti penanganan TBC yang dinilai membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa upaya penanganan tidak cukup hanya melalui layanan medis, tetapi juga harus dibarengi dengan perbaikan lingkungan dan kondisi tempat tinggal pasien.
“Penanganan TBC tidak bisa hanya dari sektor kesehatan. Harus melibatkan kementerian lain seperti dalam negeri, desa, hingga tenaga kerja. Semua saling berkaitan,” jelasnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2020 jumlah kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 824 ribu, namun hanya sekitar setengahnya yang berhasil ditemukan. Sementara pada 2025, dari estimasi 1.090.000 kasus, sebanyak 867 ribu kasus telah terdeteksi.
Capaian tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk kader kesehatan di daerah. Di Provinsi Lampung, tingkat notifikasi kasus TBC bahkan telah mencapai sekitar 97–98 persen.
Wamenkes memastikan pemerintah pusat akan terus mendukung daerah dengan penyediaan sarana dan prasarana, khususnya di wilayah dengan angka kasus tinggi.
“Kami siapkan anggaran, alat, dan dukungan penuh. Tapi yang paling penting adalah kerja bersama sampai ke tingkat kader,” tegasnya.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya penguatan program kesehatan nasional di daerah, terutama dalam percepatan eliminasi TBC dan penurunan angka stunting di Provinsi Lampung. (Red).







