BANDAR LAMPUNG, Veritasnews.id (SMSI) – Enam kecamatan di Bandar Lampung mencatat kenaikan kasus ISPA setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Data Dinas Kesehatan Bandar Lampung menunjukkan kenaikan kasus tersebut pada periode 5 hingga 7 September 2026.
Kenaikan tertinggi terjadi di Kecamatan Telukbetung Timur yang mencapai 414,3 persen.
Kasus ISPA di wilayah tersebut meningkat dari tujuh kasus menjadi 36 kasus.
Kecamatan Kedamaian menempati urutan kedua dengan kenaikan mencapai 227,3 persen.
Jumlah kasus ISPA di Kedamaian meningkat dari 11 kasus menjadi 36 kasus.
Selanjutnya, Telukbetung Selatan mencatat kenaikan sebesar 125 persen, dari 16 kasus menjadi 36 kasus.
Kenaikan berikutnya terjadi di Rajabasa yang mencapai 104,8 persen, dari 21 kasus menjadi 43 kasus.
Tanjungkarang Pusat juga mengalami peningkatan kasus sebesar 80 persen, dari 15 kasus menjadi 27 kasus.
Sementara itu, Sukarame mencatat kenaikan 34,7 persen, dari 49 kasus menjadi 66 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung Muhtadi A. Temenggung mengatakan pihaknya memperkuat surveilans di 31 puskesmas.
Dinkes memantau perkembangan kasus untuk melihat kemungkinan dampak debu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat.
“Peningkatan kasus bertepatan dengan erupsi dan debu vulkanik, tetapi belum bisa dinyatakan sebagai penyebab,” jelas Muhtadi.
Dinkes juga memvalidasi data untuk memastikan tidak ada pencatatan kasus ganda dari puskesmas.
Selain itu, petugas memantau kasus setiap hari dan memprioritaskan wilayah dengan peningkatan tertinggi.
Secara keseluruhan, kasus ISPA meningkat dari 632 kasus pada 5 September menjadi 716 kasus pada 7 September.
Kenaikan tersebut mencapai 84 kasus atau sekitar 13,3 persen dalam dua hari.
Meski demikian, Dinkes mencatat keluhan pneumonia, asma, PPOK, serta iritasi mata dan kulit masih normal.
Dinkes mengingatkan warga mengurangi aktivitas luar ruangan untuk menghindari paparan partikel debu vulkanik.
Masyarakat juga perlu menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan melalui saluran pernapasan dan mata. (DC)






