PESISIR BARAT, Veritasnews.id (SMSI) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberi ruang bagi pengrajin tahu tempe lokal di Pesisir Barat.
Taufik Hidayat, pengrajin tahu tempe Pekon Rawas, mengaku kesulitan memasukkan produknya ke dapur SPPG Pesisir Tengah.
Kondisi tersebut membuat pesanan usahanya menurun dan memukul omzet setelah lebih dari 12 tahun beroperasi.
Taufik bahkan terpaksa merumahkan beberapa pekerjanya karena usaha tidak lagi mampu mempertahankan jumlah karyawan sebelumnya.
“Sulit benar masuk ke dapur MBG, banyak yang menolak. Jadi terpaksa beberapa karyawan saya rumahkan dulu,” ujar Taufik.
Menurut Taufik, dapur MBG justru mengambil tahu dan tempe dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan program.
“Dari Lampung Barat turun ke sini, ngirim tahu tempe. Sedangkan pengrajin di sini enggak kebagian,” katanya.
Ia menyebut harga produk lokal dan produk luar daerah relatif sama sehingga alasan tersebut semakin sulit dipahami.
Taufik menilai program MBG seharusnya membuka pasar baru bagi usaha kecil sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Selama ini, usaha Taufik tidak hanya menopang keluarganya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan beberapa pekerja.
Kini, sejumlah pekerja harus kehilangan sementara sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Mau bagaimana lagi, usaha kita semakin menurun. Terpaksa dengan berat hati saya rumahkan,” ujarnya.
Taufik berharap pemerintah dan pengelola SPPG memberi kesempatan lebih besar kepada pengrajin pangan lokal.
Menurutnya, pembelian bahan pangan lokal dapat memperluas manfaat MBG hingga pelaku usaha dan pekerja daerah.
Program tersebut tidak hanya menyediakan makanan bergizi bagi anak, tetapi juga menggerakkan pendapatan petani, pengrajin, pedagang, dan pekerja.
“Kami hanya berharap diberi kesempatan. Jangan sampai usaha lokal di sini mati karena tidak mendapat pasar,” kata Taufik.
Ia berharap pemerintah mengevaluasi pola pengadaan bahan pangan SPPG agar pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan yang setara.
Saat ini, Taufik terus mempertahankan usaha tahu tempenya sambil menunggu perhatian pemerintah terhadap kondisi pengrajin lokal.
Bagi Taufik, satu pesanan MBG bukan sekadar transaksi, tetapi juga peluang menghidupkan kembali pekerja yang kehilangan penghasilan.
“Para SPPG di Pesisir Tengah ngambil bahan pangan seperti tahu dari luar daerah,” katanya. (SAL)






