BANDAR LAMPUNG, veritasnews.id – Pemerintah Provinsi Lampung terus mencari cara agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui penguatan kolaborasi dengan berbagai lembaga dan sektor usaha untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah.
Hal itu menjadi fokus dalam rapat pengembangan ekonomi yang dipimpin Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama perwakilan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), serta sejumlah perangkat daerah di Kantor Gubernur Lampung, Jumat (12/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mirza menekankan bahwa tantangan pembangunan ke depan tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah daerah. Keterbatasan fiskal membuat daerah perlu membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah pusat, lembaga keuangan, dan sektor swasta.
Menurutnya, Lampung memiliki modal yang cukup kuat untuk berkembang. Selain didukung sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah, sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Mirza mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari dampak yang dirasakan masyarakat, seperti terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan, dan berkurangnya angka kemiskinan.
“Pertumbuhan ekonomi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu pembangunan yang dilakukan harus mampu menciptakan peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.
Dalam pembahasan tersebut, salah satu isu yang mendapat perhatian adalah upaya mendorong investasi pada sektor-sektor unggulan daerah yang memiliki nilai tambah tinggi. Lampung dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri berbasis pertanian, termasuk pengolahan hasil perkebunan dan energi terbarukan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, investasi yang masuk ke daerah harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian lokal.
Ia mencontohkan pengembangan industri bioetanol yang saat ini mulai dilirik di Lampung. Selain berpotensi mendukung program energi terbarukan nasional, sektor tersebut juga dapat membuka peluang baru bagi petani dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya besarnya investasi, tetapi bagaimana investasi itu memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor-sektor produktif daerah,” kata Bimo.
Melalui sinergi antara pemerintah, regulator, dan dunia usaha, Pemprov Lampung berharap berbagai potensi ekonomi yang dimiliki daerah dapat berkembang lebih optimal. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat daya saing daerah sekaligus mendukung target pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. (Red)






