BERITADAERAHLAMPUNG UTARA

Revitalisasi SDN 3 Subik Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

14
×

Revitalisasi SDN 3 Subik Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG UTARA, Veritasnews.id (SMSI) – Sejumlah temuan di lokasi revitalisasi SDN 3 Subik memunculkan dugaan ketidaksesuaian material dan metode konstruksi dengan spesifikasi pekerjaan.

Proyek senilai Rp711.609.942 tersebut mencakup rehabilitasi empat ruang kelas dalam satu bangunan.

Scroll Untuk Baca Artikel
ADVERTISEMENT

Berdasarkan pantauan di lokasi pekan lalu, pekerja menggunakan besi tulangan berdiameter 8 milimeter dan 10 milimeter yang diduga tidak sesuai spesifikasi.

Material tersebut diduga termasuk besi banci yang memiliki diameter lebih kecil dari ukuran yang dipersyaratkan.

Pekerja juga menggunakan semen merek Jakarta karena keterbatasan ketersediaan material di toko sekitar.

Selain material, metode pembangunan tiang penyangga teras turut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian konstruksi.

Pekerja diduga tidak menggali pondasi untuk tiang penyangga, melainkan membongkar siring di depan pintu ruang kelas.

Pekerja kemudian memanfaatkan bagian bekas siring dan memasang bekisting berbentuk kotak untuk pengecoran.

Temuan lainnya berkaitan dengan peninggian dinding bangunan yang diduga tidak mencapai ukuran satu meter.

Seorang pekerja menyebut rencana peninggian dinding mencapai satu meter dari bangunan lama.

“Dalam rehab ada peninggian gedung, dindingnya naik 1 meter. Kalau atapnya nanti yang ngerjain kawan-kawannya Pak Budi,” ujar pekerja tersebut.

Di sekitar bangunan, sisa bongkaran atap kelas juga masih terlihat dan belum seluruhnya dibersihkan.

Pekerja turut menggunakan peralatan seadanya tanpa mengenakan alat pelindung diri (APD) sesuai anjuran.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja selama pelaksanaan revitalisasi.

Dugaan ketidaksesuaian material dan metode konstruksi menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan struktur serta kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis.

Ketua Pelaksana Kegiatan (P2SP), Budi, mengakui penggunaan semen merek Jakarta karena keterbatasan stok semen merek lain.

“Untuk semen, kenapa kita menggunakan merek Jakarta karena stok Baturaja di toko tidak ada. Itu pun harus menunggu karena keterbatasan stok,” kata Budi.

Budi juga mengaku tidak mengetahui secara pasti nilai anggaran proyek karena tidak memegang Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Ia menyebut hanya mengetahui perkiraan anggaran berdasarkan informasi pada papan proyek berbahan banner.

“Kalau untuk nilai kegiatan itu kami tidak tahu, tapi kalau di banner itu sekitar Rp700-an juta,” ujarnya.

Budi diketahui merangkap sebagai pengawas sekaligus pekerja dalam pelaksanaan revitalisasi tersebut.

Hingga kini, awak media belum memperoleh keterangan dari tenaga ahli atau konsultan untuk memastikan kesesuaian pekerjaan dengan standar konstruksi.

Kepala SDN 3 Subik berinisial D juga belum memberikan keterangan terkait sejumlah temuan tersebut hingga berita ini disusun.

Pemeriksaan teknis diperlukan untuk memastikan kesesuaian material, metode konstruksi, dan hasil pekerjaan dengan spesifikasi yang berlaku. (JAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *